Rabu, 25 Maret 2015

buah manis dan angin

Hai yang dekat tetapi terasa jauh..
Kedekatan bukan berarti selalu mengikat rasa bukan..
Keterikatan bukan menjadi tujuan utama, apalagi jika hanya terikat dengan janji palsu tanpa saksi..
Omong kosong dengan saksi saksi bisu..
Berkatapun tak mampu apalagi menuntut..

Biarkan angin berdesir, mungkin saja hujan akan turun..
Tetapi tak selamanya angin itu mampu menggugurkan awan menjadikannya hujan..
Biarkan saja ia bertiup, karena memang itu yang harus dilakukannya..
Anggaplah kita tak mampu menjadi angin yang tiada henti berdesir bertiup kencang..

Karena kita adalah pohon, pohon yang terus menjulang tinggi dan berbuah..
Biarkan angin menggoyangkan dahan dahan kita, dan menjatuhkan buah manis dari dahan pohon..
Biarkan angin bersusah payah merobohkan..
Dan kita terus berbuas manis..
Buah yang menjadi anugrah bagi yang berpijak ditanah..
Buah yang menjadi sumber penghidupan..

Hai yang dekat namun terasa jauh..
Bersabarlah..
TungguLah hingga waktu menunjukan arti dari kedekatan jarak..
Semua pasti akan berbuah manis..
Dan setiap buah yang dihasilkan, akan ada angin yang selalu mencoba merobohkan..

Sabtu, 21 Maret 2015

Citra

Kau tahu bagaimana slide show pada saat materi diberikan dosen ? 
Selalu berganti ganti dengan slide yang baru jika penyampaian materi akan berubah..
Tapi layaknya film dokumenter, pikirku terus menerus mencitra slide mengenaimu..
Terlalu banyak pencitraan yang kau berikan, hingga rasanya tak sanggup lagi aku menampung semua..

Citra yang selalu mampu membuat garis keriput bertambah..
Tapi bukan seperti yang selalu tercetak di dahi karena terlalu banyak berpikir..
Melainkan garis halus yang akan bertambah di sudut bibir..

Membayangkan akan terlihat lebih tua karena citra yang muncul di setiap pikirku
Membuat aku berusaha untuk tidak berpikir..
Tetapi rasanya sulit jika tak dipkirpun citra itu selalu datang mengusik..

Wahai citra, pergilah sebentaar sajaa, 

Jumat, 20 Maret 2015

Hello pemain

hello pemain
Kini saatnya kita bermain bukan?
Waktu permainan kita hampir habis sebentar lagi..

Aku akan berucap syukur karena waktu kita bermain hampir habis, semakin cepat ia habis, maka semakin baik..
Tapi aku akan kehilangan segala permainan yang kita lakukan..
Mungkin aku akan merindukan semua permainan kita..
Karena di dalam permainan itu ada kehangatan dan juga kenyamanan..

Pemain, dapatkah kita berhenti bermain sekarang?
Aku sudah lelah..
Permainan ini membawa lari perasaanku..
Bisakah kita menjadi dewasa sekarang?
Aku ingin berhenti..
Aku serius..

Hello pemain, mengertikah??
Hello pemain, bacalah ini..
Hello pemain.. 

Selasa, 17 Maret 2015

Kertas bekas


Aku bukan pemain, tapi juga aku tidak di permainkan..
Ketika kau berkata usai, maka aku dengan cepat memulai yang baru, tak butuh waktu lama untuk merobek lembaran lama dan mulai menuliskan cerita baru..
Kertas usang itu tak juga ku buang di tempat sampah seperti yang kau lakukan..
Kertas itu ku arsipkan baik-baik dalam kotak penyimpanan..
Itulah mengapa aku bersikap biasa saja pada siapapun..

Bukankah kau sudah membeli buku baru? Dan membuang yang lama?
Kenapa kau selalu mencarinya jika sudah kau buang?
Mengapa mencoba mengingatnya setelah kau hapuskan

Aku bersyukur dengan kertas lama yang pernah ku torehkan dengan tinta berwarna, tak juga ku buang karena bagiku mereka kenangan..
Aku tak pernah membeli buku baru, hingga lembaran bukuku habis dengan semua tinta keperakan dan juga emas..
Tak lama lagi buku lama akan menjadi arsip yang dapat dibuka jika mengenang asa..
Dan buku baru akan segera tertulis dengan jutaan warna cerah keperakan dan emas..

Hingga kata usai terucap, kertas itu terlalu kosong dan hanya dipenuhi tinta hitam, tak spesial.. Sehingga mudah saja untuk merobeknya dan memasukan ke kotak penyimpanan bahkan dapat dengan mudah terlupa dimana ia sekarang..

Hingga warna warni dengan emas dan perak berkilauan memenuhi lembaran baru..
Kilaunya sungguh menyilaukan, membuatnya sulit pudar, bahkan ketika kertas itu dirobek kemilaunya masih tercetak jelas pada setiap halaman.. 

Minggu, 08 Maret 2015

pertemuan

Ku ingat saat pertama aku berbicara, dia sombong..
Banggakan saja apa yang kau punya karena memang aku tak memiliki apa-apa..
Tapi kekaguman timbul..
Kekaguman karena suara, hanya suara..
Tak pernah kuharapkan apapun selain suara itu, suara yang mampu menghipnotis agar aku selalu mendengarkan..
Suara saja sudah menghipnotis, dan kini kita bertemu (lagi)..
Pertemuan kita sebelumnya bukan pertemuan resmi, yang jika ditanyakan pun kamu pasti akan melupakannya..
Setiap pertemuan kita, aku akan tersenyum dengan mudah dan kata “astagfirullah” akan muncul setelahnya..
Pertemuan yang sekarang adalah pertemuan untuk perkenalan..
Dan ku harap akan ada pertemuan lagi kelak, pertemuan yang membahagiakan tentunya..
Pertemuan seperti apapun yang nanti ditakdirkan, aku akan menunggunya..
Karena pertemuan selalu menghadirkan kebahagiaan pada saatnya..

Senin, 17 November 2014

sadar

seharusnya aku sadar
kita tidak ditakdirkan untuk bersama
kita ditakdirkan untuk berpisah
kemudian saling melupakan
dan menjalani hidup bahagia masing-masing

karena kita disatukan dengan sakit
maka kita dipisahkan ketika sakit telah terobati

sejak aku pergi seharusnya hatiku juga pergi
bukannya tetap tinggal dan tak ingin melupakan

sejak kabar tak kunjung menghampiri
diam dan terus berjalan menjauh
bukan diam dan mencoba mendekat

sadar !!
bangun !!
hayalan hanya membuat semakin terpuruk
bangun mimpi indah dan wujudkan
berkecimpung dalam hayal tak membuat bangkit
lupakan!!

Kamis, 28 Agustus 2014

*imagine*

listening someone singing a song in cafetaria make me feel great.. make me smiling and cant stop that feel..

tiada masa paling indah~ masa masa di sekolah~ tiada kisah paling indah~ kisah kasih di PGL~

yang aku ingat lagu itu adalah lagu yang aku nyanyikan bersama bapak bupati.. dan setelahnya aku hanya bermimpi..

aku ingat ketika dia kedinginan, dia melipat tangannya di depan dada dan terlelap..
andai aku dapat menyelimutinya.. tetapi aku memandangnya, hanya itu yang ku lakukan..
ketika dia terbangun dan bergeser sedikit dari tempatnya terduduk aku memalingkan wajah melihat ke arah danau yang dihiasi bulan penuh terang bergantung yang memantulkan cahaya di gelapnya air danau.. sungguh indah malam itu, seindah kenangan yang akan kusimpan..
sepanjang perjalanan tak dapat ku terlelap dengan tenang, sebenarnya itu bukan karena kafein yang kau berikan melalui kaleng kopi, tetapi lebih karena adanya dirimu di sampingku, tepat di sisiku.. aku terlalu gugup dan sulit mengatur detak jantung yang selalu berdetak lebih kencang..

aku ingat setelah itu di perjalanan pulang adalah kali pertama aku berharap dapat tidur dalam dekapan.. sepertinya dada itu cukup bidang.. tapi lagi lagi itu hanya hayalan.. hayalan gadis yang baru saja ditinggalkan teman jauh..

perjalananku tidak hanya satu kali, tetapi perjalanan terakhir akan selalu aku ingat..
ketika dia mengatupkan daguku yang sedikit terbuka, sehingga aku terjaga sepanjang perjalanan panjang..
ku selimuti dia dengan jaket yang memang sudah di pakainya.. karena aku tahu dia rawan sakit dan tidak kuat udara dingin, dan bus yang kami tumpangi sangat dingin, lagi lagi aku tertegun memandangnya, berandai andai jika dia memegang tanganku erat dan memasukannya ke jaket yang dipakainya agar aku hangat..

ketika aku menuliskan ini, aku hanya dapat tersipu malu, karena semuanya merupakan bagian dari imajinerku yang terlalu tinggi..
dan dia yang tak pernah ada.. kecuali lagu yang memang aku nyanyikan bersama pak bupati, hanya itu yang merupakan kenyatan..