Rabu, 25 November 2015

permainan berakhir pemain..

Mungkin aku bukan pemain yang baik, karena kekalahan tak mudah diakui begitu saja..

Tapi ini adalah hari yang ajaib, dimana aku merasa bahwa dengan keluarga kita menjadi dekat..

Tetapi ini bukan tentang kekeluargaan..

Ini tentang permainan

Hello pemain, kini permainan tlah benar benar usai..
Niatku bermain malah dipermainkan

Memang kau pemain ulung..
Pantas jika kemenangan kau dapatkan..
Esok jika aku akan bermain, aku akan belajar dari permainan kali ini..

Tapi kurasa akan berhenti, tak lagi waktu berpihak untukku bermain..


Kini ku kan diam dan menonton saja, karena menjadi penonton bukan hanya melihat, tapi harus punya keahlian..

Karena dari awal ku sudah salah niat, kekalahan menghampiri..

Tak ku gubris hembusan angin, tak ku hirau deburan ombak
Ku seperti pasir yang terhempas ke daratan dan terbawa kembali ke laut..

sapaan hangatpun ku acuhkan dengan wajah congkak
Hingga akhirnya tak terarah dan membawaku salah

Bukannya ku tak sudi, atau hanya gengsi, Tapi aku benci..

Salam hangat untuk permainan

Salam rindu dari kepalsuan

Salam sayang dari kepura puraan..

Minggu, 15 November 2015

tentang hati

pernah seseorang berbicara padaku, hati ini sebenarnya kita yang mengatur..
mau jatuh kepada siapa dan menjadi milik siapa semua ada pada diri kita..
jika kamu mau memilih yang terbaik maka gunakan hatimu dengan baik..
jangan memberi harapan pada banyak orang, karena mereka pasti tidak suka itu..
tetapi, jangan juga kamu menutup diri..
bukalah sedikit hatimu biarkan mereka sedikit mengintip kedalam dirimu
biarkan mereka tahu sedikit tentangmu..
jangan biarkan pintu hatimu terbuka lebar, nanti mereka keluar dan masuk tanpa pernah tinggal..

ketika hati sudah pernah disinggahi dan kini pintu itu terkunci sementara, cobalah membuka dengan kunci yang tepat..

Untuk kamu

Saat jaman sekolah pernah punya pikiran kalau punya pacar itu harus dari temen, biar pas putus bisa jadi temen lagi..

Ternyata ga segampang itu..
Setiap manusia punya kepribadian yang berbeda, beberapa pengalaman sih begitu, being friend after break up, tapi ngga dengan yang terakhir, yang paling lama, yang paling setia, paling banyak cobaan, dan paling baper..

Orang yang digadang-gadang bakal jadi temen seumur hidup ternyata cuma sebatas teman sesaat, yang pernah ditemenin terus ngebuang gitu aja..

Ga beda sama sampah..

Tadinya Harapan buat jadi temen lagi ada, sampai kita berantem gara gara *****, orang yang pas kamu pergi dia dateng ngobatin luka, yg selalu ada nemenin yang juga nahan bt karena cuma ceritain tentang mantan..

Mungkin kamu beranggapan aku selingkuh karena aku ada foto dengan dia, padahal itu foto perpisahan sebelum aku pindah kampus ke jakarta, hampir 4 bulan setelah putus, andai kamu tahan sebentar kita ga akan lagi ldr terpisah lautan.. Kita akan satu daratan dan gampang ketemu, tadinya aku sudah berhayal dan berjuang untuk itu, ternyata perjuangan menjadi sia sia..

Ketika kita berantem aku bingung dengan apa yg di fikiran kamu, aku pun kesal, dari mana kamu tau nama *****, karena tak seorang pun yg tau *****, dan kami pun hanya teman tak lebih..
Namun cara kamu membicarakannya terus terang membuatku geram, karena dia tak sepantasnya dibicarakan seperti itu..
Karena seperti yg kamu tahu, aku tidak suka jika ada orang yg menjelek jelekkan temanku..

Sekarang kita bahkan seperti tak saling mengenal, tak ada satu alasan pun yg bisa mengobati rasa penasaranku..

Jujur aku sakit hati saat kau memutuskan hubungan, namun aku menyesal setelah putus menjadi begini, tak berkabar, tak menyapa, tak menghiraukan, bahkan mungkin jika aku mati kaupun tak berduka, tak bisa merasakan kebahagiaan yang kurasakan, tak lagi dapat berbagi cerita.. Ya, mungkin karena kita tak lagi berteman, tak lagi boleh bertegur..

Namun, aku sering tersenyum dengan yang tak aku kenal, tetapi kenapa dengan engkau? Kita berteman bukan? Kita saling mengetahui bukan?

Setidaknya jika aku tak dapat berteman lagi, berikanlah alasan yang logis dan mampu memenuhi dahagaku atas rasa penasaran itu, rasa penasaran mengapa hubungan kita tak bisa diteruskan? Dan mengapa kita tak bisa berteman, atau kau yang tak bisa berteman? Tolong aku, biarkan rasa penasaran ini menguap, jangan lagi memaksa..


Dan aku mohon maaf dengan semua perkataanku di media sosial maupun media lainnya yg disengaja ataupun tidak..

Aku hanya ingin kamu membalas ini, hanya kamu