Assalamualaikum..
tahun 2011 silam saya mendaftarkan diri menjadi mahasiswi di banyak universitas ternama di Indonesia, dari sekian banyak universitas, akhirnya saya lulus di sebuah universitas keguruan yang terletak di jalan Setiabudi Bandung. kampus yang rindang, sejuk, dan luas.
Kamu tahu, bagaimana luasnya kampus itu? jelas aku bilang luas karena sekolah SMA ku dulu hanya sebesar lapangan basket.
aku tidak hanya mendaftar disana, aku juga lulus dalam beberapa tahapan tes di sebuah universitas negeri yang sama bergengsinya, atau bisa dibilang institut?
dari beberapa tahapan tes ada satu tes yang paling melelahkan, karena harus mengulang seluruh rangkaian tes yang telah dilakukan sejak awal. dan ini adalah tes penentuan, apa kamu akan lolos atau tidak.
disinilah semuanya dimuai. saat itu aku sedang menunggu giliranku untuk diperiksa kesehatan gigi dan mulut, dokter yang akan memeriksaku adalah seorang laki-laki dengan umur sekitar 50 tahunan, yah karena beliau terlihat cukup tua. dan terlihat agak galak. dengan percaya diri aku maju untuk dilakukan pemeriksaan gigi. pak dokter dengan kata-kata yang tegas bertanya "kamu kontingen mana? diperiksa dimana giginya?" dengan sedikit gugup aku menjawab "saya dari provinsi, diperiksa di rumah sakit di daerah", kemudian beliau dengan tegas menjawab "harusnya kamu ga lulus ini, masa kaya begitu bisa lulus", dengan wajah yang bukan dibuat-buat untuk memelas atau kecewa, tapi pasti wajah itu yang saat itu terpatri dihadapan sang dokter aku menjawab "jangan dok, saya janji nanti saya rapihin", dokter itu entah luluh entah memang hanya melakukan genjatan dia menjawab dengan wajah yang terlihat menyeramkan, tapi tidak semenyeramkan yang kalian bayangkan, tapi begitulah "yasudah kali ini saya luluskan, tapi janji nanti di rapihin ya setelah saya luluskan, di behel, di klinik di kampus juga bisa" dengan mantap dan penuh kebahagiaan aku menjawab "Siap pak, saya janji!"
tujuh tahun berlalu, pernah saya bertanya tetang pemasangan behel di kampus, namun apa daya, saya dipindahkan kampusnya ke tempat yang sulit dijangkau, hingga akhirnya saya dipindahkan kembali ke jakarta, disana saya sempat main ke klinik dan bertanya perihal pemasangan behel gigi. namun, saya belum siap untuk menggunakannya, padahal saya sudah lulus dan sudah dua tahun menunda janji yang pernah saya buat dengan dokter yang meluluskan tes kesehatan saat itu.
Kamis, 1 Maret 2018.
setelah perjuangan mencari dan bertanya mengenai dokter spesialis orthodenti ke berbagai sosial media, saya dikenalkan dengan seorang dokter. saat itu juga saya langsung mengubungi dokter via whatssapp, dan sore itu saya segera membuat janji temu untuk periksa gigi.
tahun 2011 silam saya mendaftarkan diri menjadi mahasiswi di banyak universitas ternama di Indonesia, dari sekian banyak universitas, akhirnya saya lulus di sebuah universitas keguruan yang terletak di jalan Setiabudi Bandung. kampus yang rindang, sejuk, dan luas.
Kamu tahu, bagaimana luasnya kampus itu? jelas aku bilang luas karena sekolah SMA ku dulu hanya sebesar lapangan basket.
aku tidak hanya mendaftar disana, aku juga lulus dalam beberapa tahapan tes di sebuah universitas negeri yang sama bergengsinya, atau bisa dibilang institut?
dari beberapa tahapan tes ada satu tes yang paling melelahkan, karena harus mengulang seluruh rangkaian tes yang telah dilakukan sejak awal. dan ini adalah tes penentuan, apa kamu akan lolos atau tidak.
disinilah semuanya dimuai. saat itu aku sedang menunggu giliranku untuk diperiksa kesehatan gigi dan mulut, dokter yang akan memeriksaku adalah seorang laki-laki dengan umur sekitar 50 tahunan, yah karena beliau terlihat cukup tua. dan terlihat agak galak. dengan percaya diri aku maju untuk dilakukan pemeriksaan gigi. pak dokter dengan kata-kata yang tegas bertanya "kamu kontingen mana? diperiksa dimana giginya?" dengan sedikit gugup aku menjawab "saya dari provinsi, diperiksa di rumah sakit di daerah", kemudian beliau dengan tegas menjawab "harusnya kamu ga lulus ini, masa kaya begitu bisa lulus", dengan wajah yang bukan dibuat-buat untuk memelas atau kecewa, tapi pasti wajah itu yang saat itu terpatri dihadapan sang dokter aku menjawab "jangan dok, saya janji nanti saya rapihin", dokter itu entah luluh entah memang hanya melakukan genjatan dia menjawab dengan wajah yang terlihat menyeramkan, tapi tidak semenyeramkan yang kalian bayangkan, tapi begitulah "yasudah kali ini saya luluskan, tapi janji nanti di rapihin ya setelah saya luluskan, di behel, di klinik di kampus juga bisa" dengan mantap dan penuh kebahagiaan aku menjawab "Siap pak, saya janji!"
tujuh tahun berlalu, pernah saya bertanya tetang pemasangan behel di kampus, namun apa daya, saya dipindahkan kampusnya ke tempat yang sulit dijangkau, hingga akhirnya saya dipindahkan kembali ke jakarta, disana saya sempat main ke klinik dan bertanya perihal pemasangan behel gigi. namun, saya belum siap untuk menggunakannya, padahal saya sudah lulus dan sudah dua tahun menunda janji yang pernah saya buat dengan dokter yang meluluskan tes kesehatan saat itu.
Kamis, 1 Maret 2018.
setelah perjuangan mencari dan bertanya mengenai dokter spesialis orthodenti ke berbagai sosial media, saya dikenalkan dengan seorang dokter. saat itu juga saya langsung mengubungi dokter via whatssapp, dan sore itu saya segera membuat janji temu untuk periksa gigi.