Rabu, 06 April 2016

KARENA AKU BUKAN KAMU


Jangan kamu menyamakan hidup dengan aku, kita berbeda, jalan kita tak sama.

Kamu lebih bahagia dari aku, namun kamu akan selalu berfikir betapa bahagianya menjadi aku.
Aku pun begitu, sempat terfikir betapa bahagianya menjadi dia, menjadi kamu, menjadi orang lain.
Namun aku salah, betapa bahagianya Tuhan menjadikan aku seorang aku, bukan orang yang kuanggap lebih bahagia.
Kisah kita tak sama, ujian yang diterima pun berbeda, ada yang menganggap suatu hal itu mudah, ada juga yang menganggap itu lebih sulit dari apapun.
Kamu tak perlu merasakan perihnya menjadi aku, dan akupun tak berharap merasakan sedihnya menjadi kamu.

Aku akan menceritakan sekelumit kisahku

Aku tak pernah merasakan indahnya masa muda seperti yang lain, seperti ikan di dalam akuarium, ada juga yang menyebutnya penjara.

Sesedih itu, aku tak berharap kamu tahu.

Kamu tak tahu bagaimana takutnya aku berpapasan, padahal itu manusia lainnya. Mungkin saat itu, aku lebih baik berpapasan dengan bukan manusia.
Aku tak bisa memiliki teman yang terlalu dekat, berbicara. Hanya berbicara akan menimbulkan masalah yang besar.

Aku rela berpeluh, menahan sesal, sesak, sakit, dan tetap tersenyum.
aku sering mengalaminya, namun semuanya tetap indah, tergantung sebagaimana kamu mampu bersyukur.

kami memiliki cerita.

meninggalkan orangtua, keluarga, demi perjuangan yang melelahkan.
lupa teman, lupa saudara, kami melupakan semuanya, yang kami ingat kami adalah keluarga.
derita seorang adalah derita semua, karena kami senasib sepenanggungan.
hujan badai dan panas terik bukanlah hal yang patut ditakuti, karena kami berlindung dibawah teriknya matahari dan siraman hujan.

jangan kira aku tak bahagia, karena aku tahu, pelangi akan selalu muncul setelah hujan, dan matahari akan terbendung oleh gelapnya mendung.

aku senang ketika bercerita, aku dulu....
tetapi aku akan berfikir ulang jika harus mengulang.

kesedihan itu jangan kamu samakan.
kamu tahu aku bukan dari keluarga yang seperti toserba.

kesedihanku banyak, menumpuk seperti gunung, ingin kuledakkan rasanya.
namun percuma jika ku ceritakan, karena tak semua dapat mengerti, biar yang lain melihat kebahagiaanku, dan biarkan kesedihanku aku yang tahu.

pandanglah kebawah, lihat betapa beruntungnya kamu.
lihatlah ke atas, begitu tingginya langit tak tergapai.
susuri sekitar, rasakan apa yang telah diberikan.
berusahalah, berdoa, berhenti berharap pada manusia.

semua akan selalu ada masanya, semua akan selalu memiliki jalan keluar.

jangan iri, jangan cemburu.
rumput tetangga akan selalu terlihat lebih hijau, itu terjadi bukan karena tetangga lebih dari kita, tetapi karena kita yang tak pandai bersyukur.

jangan berharap menjadi aku, karena aku bukan kamu

Tidak ada komentar: